PEMBELAJARAN DARING, SIAPA TAKUT?



“Aku pusing ngajarin anak ku di rumah, mumet, pelajarannya susah, terus ngajarin sambil masak, nyuci, jualan,  belum lagi adeknya rewel. Rasanya pingin jadi amoeba yang bisa membelah diri… Nah, wes tau amoeba kan aku gara-gara belajar daring hahahaha” kata tetangga sebelah rumah.

 

Tidak terasa, tahun 2020 ternyata tinggal 4 bulan lagi. Pandemi tahun ini membuat kita harus melakukan hal-hal berbeda dari tahun-tahun biasanya. Hingga ada lelucon,

Guling-guling di kamar, tau-tau tahun baru lagi, tahun 2020 ngapain aja? Ga ada”.

Tahun 2020 mungkin akan selalu diingat oleh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia. Dimana kita harus berdiam diri di rumah agar terhindar dari virus covid-19 yang bentuknya tidak terlihat oleh mata telanjang. Covid-19 juga membuat kita dan seluruh anggota keluarga  menjadi lebih sering di rumah. Dampaknya positif dan negatifnya pasti dirasakan, salah satu dampak positifnya adalah masing-masing anggota keluarga menjadi lebih dekat, bahkan hal-hal yang dulunya tidak pernah dikerjakan secara bersama-sama, sekarang dikerjakan secara bersama-sama, contohnya kegiatan belajar bersama antara orang tua dan anak melalui daring. Salah satu alasan dilakukan pembelajaran daring adalah agar seluruh anak Indonesia tetap mendapatkan pembelajaran dan dapat tetap terhindar dari covid-19.

Menurut saya, pembelajaran melalui daring menjadi salah satu solusi yang baik di masa pandemi seperti ini. Walaupun ada beberapa orang tua yang tidak menyetujui pernyataan ini. Namun dapat diketahui, pembelajaran daring ini dapat meningkatkan :

1.      Nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik

Tetap memberikan pembelajaran dan kegiatan yang beragam di masa pandemi tidak menghalangi pendidik dalam membangun nilai-nilai karakter peserta didik, contohnya adalah peningkatan nilai karakter gemar membaca, karena siswa hanya bisa mendapatkan ilmu dari membaca materi yang diberikan oleh pendidik, maka mau tidak mau peserta didik menjadi gemar membaca. Nilai karakter yang lainnya adalah kreatif. Salah satu contohnya, ketika seorang pendidik memberikan tugas membuat sesuatu bertemakan HUT RI bersama orang tua, maka akan beragam karya dan makanan yang dikumpulkan, dan itu sangat luar biasa. Nilai-nilai karakter yang lainnya adalah religious, jujur, tanggung jawab, mandiri, dan lain-lain.

 

2.      Kedekatan siswa dengan orang tua

Jangan remehkan kedekatan antara anak dan orang tua dalam proses pembelajaran. Ketika orang tua peduli dengan pembelajaran anak, tidak sedikit peserta didik yang nilainya meningkat karena bimbingan orang tua. Walaupun terkadang mengandung bawang dan emosi yang sedikit meningkat, namun saya percaya orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan akan membimbing sebaik mungkin untuk anaknya.


3.      Keterampilan guru dalam pembuatan media pembelajaran

Pembelajaran daring membuat para guru berpikir lebih dalam membuat media pembelajaran. Media pembelajaran yang dapat dimengerti siswa dengan mudah tanpa bertemu langsung menjadi tantangan besar bagi para guru. Hal tersebut secara tidak langsung akan melatih keterampilan guru  dalam membuat media pembelajaran.

 

Jadi, tetap semangat pembelajaran daringnya dan patuhi protokol kesehatan yang di anjurkan pemerintah. Semoga pembelajaran tatap muka dapat segera dilaksanakan kembali seperti sedia kala.  #CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah 

(Tia Oktavia Molina)

Komentar